Entri Populer

Minggu, 10 November 2013

Tentang Bersih Nyok Hari Ini

Pukul 6 kurang beberapa menit, bermodal petunjuk dari Jet dan niat baik untuk Jakarta yang lebih bersih, gue dan sobat-yang-mudah-dan-paling-sering-punya-waktu diajak ke mana-mana, Ekky Pong, berangkatlah kami ke Jeruk Purut. Karena kami berdua sama-sama anak rantau yang sama sekali belum pernah ke Jeruk Purut ditambah lagi minimnya informasi angkutan umum Rawamangun-Jeruk Purut, awalnya kami berencana naik kereta dari Manggarai ke Tanjung Barat dan nyambung naik Taksi ke lokasi bersihnyok. Untunglah, sebelum kami turun di shelter Manggarai, Jet sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan gue lewat tweet-tweetnya. Kalau seandainya kami jadi naik kereta dan lanjut naik taksi, entahlah gue dan Eki nyasar dan/atau sampai jam berapa tanpa tweet-twet lu, Jet. Makasih banyak yak!

Sekalian self-note untuk memori jangka pendek gue, lewat post ini gue juga mau ngasih tau transportasi umum Rawamangun - Jeruk Purut (kali-kali ke depannya mau main ke Jeruk Purut atau nongkrong di cafe Rolling Stone ;D). Kalau naik Transjakarta dari Pemuda-Rawamangun dan sekitarnya harus transit di dukuh atas, lanjut naik TJ tujuan Ragunan kemudian turun di shelter Pejaten Phillips. Dari Pejaten Phillips jalan ke arah Mall Pejaten Village, lanjut naik KWK 11 di seberang Mall.

Setelah beberapa menit naik KWK, sampailah kami di TPU Jeruk Purut. Belum bisa bernafas dengan sangat lega karena kami masih dibingungkan dengan lokasai Masjid Al-Barkah, tempat yang dipilih untuk para volunteers ngumpul dulu. Gue lalu nelpon Jet, doi nggak ngangkat. Ekky pun nanya di mana lokasi masjid ke abang-abang yang bawa pancing. Katanya masjid cukup jauh dari TPU, dan kami harus melewati TPU dulu. Kami pun melewati TPU dan menuruti petunjuk yang diberikan sambil gue kembali mention Jet di twitter untuk nanya-nanya lagi. Untunglah Jet aktif banget twitternya. Setelah kita jalan melewati TPU dan rumah-rumah penduduk akhirnya ketemu Jet yang berinisiatif menjemput kita. Sekali lagi, makasih, Jet! :))

Sampai di lokasi kita disambut mba Desi dan Dokter Nila yang merupakan salah satu penggagas bersihnyok. Kita dikasih t-shirt putih dari cleanup Jakarta. Kemudian sambil menunggu sarung tangan dan masker, gue dan Ekky pun bantu-bantu nyapu lapangan bola voli yang baru dipakai untuk acara sunatan. Beruntung ketemu Mba Desi yang ramah dan juga sudah pernah ikut kegiatan serupa pada organisasi yang berbeda sebelumnya.

Glove dan masker sudah ada lagi, gue, Ekky dan Mba Desi pun gabung dengan volunteers dan penduduk setempat yang sudah dapat glove duluan. Kami membantu penduduk setempat untuk memasukkan sampah-sampah plastik yang ada di dekat lapangan voli ke dalam kantong-kantong yang sudah disediakan.

Pukul 9 pagi, semua volunteers dari bersihnyok dan penduduk setempat beristirahat. Untuk volunteers bersihnyok kegiatan gotong royongnya sudah selesai sedangkan penduduk setempat masih akan melanjutkan kegiatan gotong royongnya. Kami, para volunteers, beristirahat di salah satu rumah warga dan diberi makanan dan minuman. Sambil makan-minum, kami saling berkenalan satu dan lainnya.

Tak lama, bu dokter datang menghampiri kami. Beliau berterima kasih dan bercerita-berbagi pengalaman mengenai kapan dibentuknya, kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan dan rencana ke depannya bersihnyok. Beruntung bertemu beliau yang sangat ramah dan menginspirasi.

Selesai makan-minum, berkenalan dan ngorol sedikit degan bu dokter, Mba Jessy dan dua orang lagi yang gue lupa namanya, dan akhirnya foto bareng, kami pun bubar. Karena 5 dari 9 volunteers hari ini membawa motor, kami pun bisa nebeng dengan mereka sampai Pejaten Village. Di mall kami mampir ke salah satu food-court. Kami kembali berkenalan dan ngobrol tentang hobi, tentang beberapa daerah yang sudah dan ingin dikunjungi, komunitas-komunitas di twitter dan beberapa selebtweet yang kita kagumi dan lainnya.

Senang banget hari ini bisa bertemu dengan teman-teman baru yang peduli lingkungan, peduli Jakarta. Dan seperti kata bu dokter pagi tadi, "The small things we do may give deep impact for others," semoga kegiatan yang gue, Ekky, Jet, Mba Desi, Mba Iren, Cyntia, Bela, Kak Andre, dan Mala lakukan hari ini bisa bermanfaat untuk bersihnyok, penduduk setempat dan kami sendiri.

Terima kasih untuk bersihnyok yang sudah mengundang dan mempertemukan kami. Dan buat teman-teman semua, very nice to meet you all :D

Selamat hari Pahlawan! :)

P.s. Foto milik Mbak Jessie dan Mbak Iren.

Minggu, 27 Oktober 2013

Tentang HaiDay 2013

Untuk pertama kalinya, Minggu, 20 Oktober, gue datang di acara HaiDay. Bermodal tiket masuk seharga Rp. 15.000 plus ongkos TJ pulang pergi UNJ - Polda, gue hari itu bisa menyaksikan penampilan live musisi-musisi yang sangat gue kagumi. Musisi-musisi yang menginspirasi lewat karya-karya mereka seperti Endah n Rhesa dan Maliq n D'Essentials (*masih terharu*).

Penampilan mereka memang cuma sebentar. Lagu yang mereka bawakan kurang dari jumlah jari kedua tangan gue. Tapi bahagia dan haru karena akhirnya bisa melihat mereka, juga karena kerennya aksi panggung mereka yang tak terdeskripsikan :'))

Tema HaiDay tahun ini sangat mengusung dan mendukung go green. "Celebrating Eco Youth" begitu yang tertulis pada kertas yang di bikin menjadi gelang untuk setiap yang hadir. Dua MC di main stage juga cukup sering meneriakkan kata-kata tersebut dan mengingatkan setiap yang hadir dan mendengar untuk tidak buang sampah sembarangan.

Miris, meski mengusung tema go green, banyak yang tidak peduli dan tuli dengan ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya. Ada begitu banyak sampah yang berserakan di sana-sini. Semakin miris melihat yang datang sore itu sebagian besar adalah kalangan muda berusia belasan dan awal 20 tahun. Sebegini banyak kah generasi muda (Jakarta) yang tidak peduli dengan kebersihan? Pikir gue sore itu.

Semoga HaiDay tahun depan lebih banyak generasi muda yang peduli lingkungan meski mungkin tema tahun depan tak lagi mengenai go green.

Rabu, 11 September 2013

Fans Agnes Monica dan Fans JKT48 di Satu Area

Minggu, 8 September 2013, berbekal tiket hasil menang kuis yang diselenggarakan perusahaan tempat gue bekerja, gue dan dua teman gue datang ke closing acara Jak - Japan Matsuri (JJM) yang dirayakan di Monas. Untuk closing tahun ini, panitia mengundang Agnes Monica dan JKT48 yang dijadwalkan perform di malam hari.

Gue bukan penggemar berat Agmon dan JKT48. Tapi gue bohong kalau gue bilang gue nggak pengen lihat penampilan langsung mereka yang sering diperbincangkan dengan sinis juga manis  baik di dunia nyata pun di dunia maya.

Mendekati pukul 20.00 panggung yang letaknya berdekatan dengan stand para penjual makanan, tempat gue dan dua teman gue sedang menikmati salah satu makanan khas Jepang, mulai didatangi orang-orang yang kebanyakan di antaranya adalah ABG cowok. Area panggung semakin rame saat di panggung muncul girlband (atau pop idol?) yang sepertinya asli dan mungkin juga didatangkan dari Jepang (mereka menyapa dan menyanyikan lagu-lagu dengan bahasa Jepang).

Awalnya gue cukup puas menonton aksi di panggung lewat layar berukuran lumayan besar yang disediakan di dua sisi panggung. Tapi setelah gue pikir-pikir, kakak Agmon dan dedek-dedek JKT48 sudah sedekat ini, masak gue juga harus lihat mereka nyanyi dan nari lewat layar. Akan cuma beda tipis dengan gue di kos buka youtube atau nonton tv untuk lihat mereka konser. Akhirnya gue meninggalkan teman-teman gue yang ogah nyelip-nyelip di antara ramenya penonton.

Gue cukup beruntung malam itu. Gue berhasil nyelip (tanpa terinjak) dan sampai di dekat kursi para tamu yang apes karena pandangan mereka ke panggung terhalang oleh punggung-punggung beberapa penonton yang berdiri. Persis di belakang gue, ada dua ABG cowok yang tidak lebih tinggi dari gue berdiri di atas satu kursi demi bisa melihat idola mereka. Tak lama, yang dinanti-nantikan akhirnya muncul di panggung, yup gerombolan dedek-dedek cute dari JKT48 yang nggak bisa gue lihat langsung karena orang-orang yang berdiri di depan gue tinggi-tinggi sekali. Gue melirik kursi yang diinjak si dua ABG, berharap ada space untuk gue juga bisa berdiri di atasnya. Tentu saja nggak ada. Untunglah, tak sampai 10 menit penampilan awal JKT48, satu penonton meninggalkan kursi yang ia duduki. Gue pun, meski awalnya ragu, ikut berdiri bersama dua ABG tadi. Sejenak mengabaikan usia dan menikmati rasa kembali menjadi ABG :))

Akhirnya gue bisa melihat adek-adek JKT48 bernyanyi dan menari dengan lincahnya langsung. Gue juga bisa menyaksikan betapa antusiasnya para penggemar mereka. Mereka ikut bernyanyi, meneriakkan kata-kata yang sebagian besar gue nggak ngerti apa artinya, dan merekam aksi panggung JKT48. Ada yang cukup puas merekam momen itu dengam ponsel mereka ada juga yang niat bawa kamera sebesar kamera ibu negara. Tak ketinggalan dengan light stick khas fans JKT48. Dengan semangat mereka mengayun-ayunkannya.

Penampilan JKT48 disusul oleh Agnes Monica setelah mereka menyanyikan kurang dari 10 lagu. Hampir separuh dari penonton meninggalkan area panggung begitu JKT48 berpamitan. Tampaknya malam itu fans JKT48 lebih banyak dari Agnes Monica.

Gue bahagia melihat langsung penampilan Agmon. Dia keren, baik suara mau pun tariannya. Malam itu dia juga membawa keponakan perempuannya yang ikut menari bersama para dancer Agmon.

Berada di tengah kerumunan fans Agmon dan JKT48 ternyata tidak seseram yang sempat gue bayangkan. Apa mungkin karena gue berada di tengah fans yang tidak sefanatik mereka yang pernah gue "jumpai" di dunia maya?

Sabtu, 17 Agustus 2013

#CeritaDariKamar: Buku




"My Best Friend is a person who will give me a book I have not read." 

Mengacu pada ungkapan Abraham Lincoln di atas, boleh dibilang saya punya banyak sahabat terbaik. Semua buku milik saya (beberapa masih dipinjam) merupakan pemberian orang-orang yang mengenal betapa sukanya saya membaca. Buku-buku yang ada di lemari buku saya adalah pemberian dari abang, kakak, sepupu, teman-teman saya dan tentunya saya sendiri.

Saya suka membaca sejak saya kanak-kanak.  Sayang, desa tempat saya dilahirkan dan bersekolah dari SD sampai SMP hingga saat ini belum mempunyai perpustakaan umum apalagi toko buku. Kegemaran membaca saya syukurnya tetap bisa tersalurkan lewat salah satu sepupu saya yang berlangganan majalah bobo saat kami masih kecil dan lewat koran lokal Sinar Indonesia Baru, saat saya beranjak remaja, yang setiap hari minggu memuat cerita pendek.

Sama seperti kebanyakan atau mungkin semua orang yang suka membaca, salah satu impian saya kelak kalau sudah punya rumah adalah menyediakan satu ruang untuk perpustakaan pribadi. Ruang tempat saya bisa membaca dengan nyaman. Ruang yang pada satu rak atau lemari kaca khusus memuat buku-buku karya saya sendiri.  Saya juga bercita-cita untuk kelak mendirikan perpustakaan dan membuka toko buku setidaknya di desa saya.

Saya suka cerita baik dalam bentuk tulisan mau pun lisan, fiksi ataupun nyata. Sebagian besar buku saya merupakan buku fiksi. Dan semua buku-buku saya pernah menemani saya kala bepergian dalam jarak dekat maupun jauh dari kamar kost saya. Saya suka membawa buku dalam tas saya, mereka sungguh menjadi sahabat terbaik saya saat saya menunggu atau saat saya bosan dan tidak ingin terlibat dengan kegiatan atau obrolan di sekitar saya.

Sahabat terbaik saya adalah mereka yang memberikan buku yang belum pernah saya baca, kata Lincoln. Saya bersyukur punya sahabat terbaik (yang memberikan saya buku) dan ingin menjadi sahabat terbaik untuk lebih banyak orang lewat buku-buku yang saya beri atau hadiahkan. Sejauh ini, buku-buku yang pernah saya berikan kepada seseorang atau saya sumbangkan pada perpustakaan-perpustakaan yang sudah berdiri dan akan berdiri tidak sebanyak yang saya beri untuk diri saya sendiri. Sepuluh jari saya bahkan lebih banyak dari jumlah buku yang pernah saya beri atau sumbangkan (semoga kamu lebih baik dari saya).

Saya ingin menjadi sahabat terbaik tidak hanya bagi diri saya sendiri.
 :)

Jumat, 16 Agustus 2013

#CeritaDariKamar: Headset

Oh the second thing I would do is I would close both of my eyes and sing the parts I knew of favorite songs up to the sky

Kata-kata di atas adalah penggalan lirik dari lagu baru Jason Mraz. Lagu berjudul Three Things ini belakangan sangat sering saya dengarkan.

Salah satu yang saya sering lakukan saat saya sedih, saat hal-hal yang saya rencanakan tidak berjalan sesuai harapan, adalah mendengarkan musik. Masalah saya memang tidak selesai dengan kegiatan yang satu ini, tapi setidaknya sedih saya sering kali berkurang setelah saya mendengarkan lagu-lagu dari musisi-musisi favorit saya, terutama Jason Mraz.

Headset ini merupakan hadiah dari saya untuk saya sendiri. Saya beli tepat di tanggal dan bulan lahir saya dua tahun lalu. Sejak menjadi penghuni kamar saya, ia sangat membantu kala saya ingin mengistirahatkan sejenak telinga dan pikiran saya dari hal-hal yang tidak membahagiakan.

Ia juga sangat membantu saya yang fokusnya mudah terganggu. Salah satu cara yang sering berhasil mencegah saya melibatkan diri dalam obrolan atau kegiatan di luar kamar saya adalah dengan menutup telinga saya dengan headset ini dan membuka list musik instrumental dalam laptop saya hingga saya bisa melanjutkan apa yang sedang saya kerjakan.

Some things are better left untold, more things are better not to be heard.

Kamis, 15 Agustus 2013

#CeritaDariKamar: Water Dispenser

Love is All Around is one of my favorite songs sung by Jason Mraz. In my bed room, one of things that reminds me of my mom's love is this water dispenser. It's bought when my mom came to Jakarta about three years ago. It was the first time she visited and stayed several weeks at my boarding house.

The first day she stayed, she asked my brother in law to buy me a water dispenser after she saw how I took some water from a 19L-gallon. At first, I denied her request. I lived in a very small room. Adding one thing as 'big' as a water dispenser wasn't that necessary, I thought. Yet, she and my brother insisted that I needed it.

There it was, several minutes after I denied to be given water dispenser, my brother came with a box of a thing that later realized me was a form of care, love from my family. Love is all around, Jason Mraz sings, it surely is in a water dispenser then. :))

I'm grateful now that they insisted I need this thing.

If I learned one thing from history It's that you find yourself in your family
From your mother to your father and sisters
The best gift is how they keep you lifted.*

Miss my family, especially my mom, and my late father, so much now.

*part of Jason Mraz's Love is All Around's lyric.

Rabu, 14 Agustus 2013

#CeritaDariKamar: Lampu Tidur

Salah satu sobat saya memberikan benda mungil ini. Hampir tiga tahun tinggal di kost yang sama, ia jelas tahu saya tidak pernah mematikan lampu sebelum tidur. Jadi, saat dia memberi lampu ini, saya pesimis akan menggunakannya.

Saya lupa kapan persisnya saya iseng tidur dengan hanya mengandalkan sinar dari lampu berbentuk cinta ini. Mungkin saat itu Jakarta sedang sangat gerah, atau mata saya terlalu lelah sehingga saya memutuskan untuk mematikan lampu utama dalam kamar.

Dan sejak malam itu, setiap malamnya saya hanya mengandalkan terangnya selama saya tidur. Kecuali jika saya terlalu mengantuk untuk mau bangkit dari kasur demi mematikan lampu utama.

Meski kecil, cahaya yang dipancarkan lampu cinta ini cukup membantu saya yang tidak suka tidur dalam ruang tanpa cahaya sama sekali. Kupikir demikian juga dengan kebaikan dan cinta yang tak (selalu) harus besar untuk bisa memberi manfaat dan dirasakan oleh siapapun dan apapun. Semoga kamu tidak seperti saya yang sering enggan dan segan untuk melakukan dan menunjukkan kebaikan dan cinta.
:)

Kamis, 08 Agustus 2013

#CeritaDariKamar: Laptop

Menceritakan benda-benda yang ada di kamar, bagi saya sama dengan menggali kenangan dan cerita di balik benda-benda tersebut. Karena setiap benda dalam kamar saya merupakan pemberian -- baik dari saya sendiri mau pun dari sahabat dan keluarga-- menceritakan mereka juga berarti berterima kasih lagi pada sang pemberi.

Di dalam kamar saya, benda yang paling berharga --bukan (hanya) karena nilai belinya-- adalah benda ini. Saya beri nama Thomas karena kesukaan saya pada salah satu striker timnas Jerman, Thomas Müller dan musisi mengagumkan, Jason Thomas Mraz.

Thomas sah menjadi salah satu penghuni kamar sekaligus sahabat saya sejak 10 Juli 2010 lalu. Ia merupakan pemberian abang saya. Di antara benda-benda lain yang menghuni kamar saya, ia merupakan salah satu yang banyak berjasa dalam kehidupan perkuliahan, hingga saya bisa wisuda 19 Maret tahun ini, dan penyalur inspirasi lewat film-film, bacaan, dan lagu-lagu yang bisa saya nikmati karena keberadaannya.

Thomas juga merupakan salah satu yang paling sering saya bawa ke mana-mana. Ke kampus, ke rumah saudara, perpustakaan, dan yang terjauh dari kamar ini, kampung halaman saya.

Saya membayangkan kalau Thomas dan benda-benda lain dalam kamar saya seperti mainan dalam Toy Story, Thomas pasti bisa menceritakan sejuta kekonyolan saya. Ia yang  banyak menangkap ekspresi bahagia, sedih, mupeng (muka pengen) karena berbagai film, kdrama, kisah (fiksi dan non-fiksi), lagu dan lainnya dan ekspresi ketika saya berkutat dengan tugas kuliah hingga skripsi. Ia juga yang mungkin akan berteriak menuntut saya menyelesaikan cerpen-cerpen yang tak kunjung selesai. Atau menutup telinga pada cerita-cerita 'payah' saya.

Saya bersyukur atas kemurahan hati abang memberikan saya Thomas.

Rabu, 01 Mei 2013

Renungan 30 April 2013

Engkau, Yang Mahahumoris..
Adakah aku menangkap maksud yang Engkau sampaikan hari ini dengan baik dan benar?
Maaf, jika yang Engkau sampaikan ternyata sangat banyak namun hanya sedikit yang mampu aku pahami.

Inikah yang ingin Engkau sampaikan?
Agar aku sedikit lebih sabar menghadapi proses yang tidak sesuai harapan untuk akhirnya tetap mencapai tujuan?
Agar aku selalu ingat akan ada orang-orang baik hati di tengah sulitnya perjuangan?
Agar aku mempertanyakan, adakah perjuangan yang sia-sia?
Agar aku selalu ingat bahwa Engkau selalu sertaku..


Terima kasih untuk akhirnya aku bisa menertawakan hal-hal yang pada awalnya sangat mengesalkan.

Minggu, 07 April 2013

Asean Blogger Festival Indonesia 2013

Honestly, I don't have any idea what is Asean Blogger Festival Indonesia (ABFI) the first time I read someone's tweet about invitation for bloggers to join the festival. I could only guess that the activity will give chance for bloggers to share their knowledge, their experience and certain topics given by the committee of this event.  It may be interested and inspiring, I thought at the time. So, I clicked the link given that showed me the first invitation and complete information about the event.

I have once joined Social Media Festival held in Jakarta few months ago. At the festival I met some people that previously I've only known through twitter and their blogs.There, they shared about their experiences and knowledge for free. Given chance to listen to others share their experiences, knowledge and thought has been interested for events like Social Media Festival. I could remember how enthusiast I was at the time.

When I read the activities that will be held in Asean Blogger Festival Indonesia 2013, I truly wish that I will be one of the lucky bloggers that can participate in the event. I'm quite sure that it will be one of my best experiences to be given chance to meet and make friends with Asean bloggers, listen to their experiences and their cultural, discuss with them and get inspired . It will be also my first time being in Solo and visit some of its cultural and tourist areas. What an experience.

About Asean Community 2015, I think bloggers can participate by sharing our opinion and/or knowledge through our blog. We may have some ideas to make our country to be able actively participated in the Asean Community. As the Asean Community is not only focused on politics but also in economic and cultural, we may have some ideas like how to start business, how to be a good entrepreneur, or we can also introduce and promote our tourism sector through our blog. We may arrange some meetings to discuss further about certain topics related to Asean Community 2015.

As through Asean Community we will get more free to travel and work in Asean countries, we can use blog to communicate and make good relationship with Asean bloggers. We may have chance to travel to their countries and need their help about specific information for example. As we have good relationship with them, they may help us happily and we can do the same thing with them if they have chance to travel to our country. Through blog we can also share and/or exchange our ideas. It is possible to start business with Asean friends.

Kamis, 13 Desember 2012

My 12-12-12 moments

Sebenarnya nggak ada yang "wow" banget sih di Rabu 12-12-12 ini. Memasuki detik pertama 12-12-12, semuanya normal-normal aja, gue masih berkutat dengan Bab 1-3 skripsi gue sambil tentunya baca beberapa tweet yang sebagian sudah mengandung "12-12-12" dalam kicauannya. Kecuali satu hal sih, musik instrumental gitar yang untuk pertama kali gue dengar di hari ini (yang juga berarti 'perkenalan' pertamaku dengan musisi-musisi hebat terkait). Tepat di hari ini gue akhirnya nyadar betapa mengagumkannya tangan Paul Gilbert, Eric Johnson, Jason Becker, dan Joe Satriani dalam bergitar.

Mulai mentok dalam mengerjakan skripsi dan udah berasa capek banget juga, akhirnya kira-kira pukul 3 dini hari memutuskan untuk tidur. Tidur pun biasa-biasa aja, nggak ada gangguan baik oleh mimpi maupun suara cempreng beberapa teman kosan yang biasanya tiap pagi kira-kira pukul 7 sudah bawel ngeganggu tidur gue. Gue bahkan nggak ingat apa mimpi gue begitu membuka mata (yang berarti mimpi gue luar biasa BIASA sampe gue gak ingat).

Makan siang gue juga biasa-biasa aja. Masih dari warteg yang sama tempat gue sering beli makan siang dengan menu yang paling sering dibeli pula. Selepas makan siang, akhirnya ada hal yang nggak biasa di hari ini, berupa kabar jadwal seminar proposal yang jatuh di hari Jumat ini. Gue berusaha menanggapinya dengan biasa-biasa aja. Nggak terlalu berhasil, sih.

Setelah tahu jadwal seminar itu, tentunya gue masih ngelanjutin hidup. Gue tetap profesional ngejalani jadwal ngajar tiga jam meskipun sebenarnya yang gue pengen adalah hari-hari sampe gue ntar seminar nggak terbeban dengan hal lainnya (oleh kerjaan paruh waktu ini terutama) untuk bisa nyiapin mental dan materi skripsi gue. Gue ngajar seperti biasanya. Bersikap ceria di depan murid-murid gue yang berusia kira-kira 6-11 tahun yang terbagi dalam 3 level yang berbeda. Murid-murid gue yang umurnya masih 6-7 tahun cukup menghibur hari ini. Kepolosan mereka dalam bernyayi bersama maupun secara individu benar-benar sangat menenangkan. Gue juga cukup terhibur oleh teka-teki dan celotehan mereka disela-sela belajar. Teka-tekinya sih akan terdengar garing kalau yang ngucapinnya orang dewasa biasa, tapi karena keluar dari bibir mungil mereka jadi terdengar lucu dan menggemaskan :D (Sejenak lupa dengan beban hidup di depan mata.)

Selesai ngajar, mampir sebentar ke Gramed. Niatnya sih cuma lihat-lihat, semacam rekreasi kecil-kecilan lah. Lihat beberapa novel baru dan bertambah lah Daftar "Buku yang Gue Harus Punya." Beberapa diantaranya gue foto dan sebenarnya nggak baru diterbitkan juga, sampulnya doang yang baru dan unik. Karangannya Djenar Maesa Ayu.


Niat "cuma lihat-lihat" akhirnya berakhir sebagai rencana doang. Gue nggak bisa nolak pemikiran random gue untuk beli satuuuu buku aja dari daftar "Buku yang Gue Harus Punya" demi bisa menuliskan 12-12-12 di lembar pertama setelah sampul buku (hehehe). Entah memang benar karena alasan itu atau gue-nya yang sebenarnya udah ngebet pengen bawa pulang buku yang berjudul Cinta (Tidak Harus) Mati itu, gue nggak bisa mastiin (dan nggak terlalu ambil pusing juga sih). Pastinya daftar gue berkurang satu dan sekaligus bertambah banyak juga. 

Setelah kurang lebih satu jam mampir dari satu rak ke rak lain hingga membawa buku tulisan Henry Manampiring itu ke kasir, akhirnya gue turun ke lantai dasar dan tentunya nggak langsung menuju shelter Transjakarta. Gue keliling lagi di lantai dasar, lihat beberapa pernak-pernik natal dan lainnya selama kurang lebih setengah jam. Mulai berasa capek dan lapar akhirnya gue beranjak ke shelter. Di shelter pun biasa-biasa aja. Karyawan-karyawan TJ masih itu-itu aja, nggak ada wajah baru yang setampan Hyun Bin, misalnya :))

Nyampe kosan, duduk beberapa menit di ruang TV sambil mikir mau beli makan apa untuk dinner. Acara TV pun seperti biasa, nggak ada yang menarik, Keluarga Cemara tak lagi diputar di TV pun ulangannya. Jadilah TV yang menonton gue yang nyumpel satu telinga dengan headset sambil serius menatap layar ponsel. Gak lama telinga yang bebas dari sumpelan headset akhirnya menangkap sinyal dari bapak penjual sate. Belakangan kan lagi pengen banget makan sate madura, jadilah tanpa ragu nyetop si bapak dan mesan sate ayam. Makan malam gue hari ini nggak biasa, akhirnya :')

Sambil menunggu satenya siap dilahap, gue ngobrol sama teman kosan. Satu lagi kabar nggak biasa nyampe ke telinga, tentang dosen penguji di seminar nanti dan jadwal sidang akhir yang dengar-dengar tak sampai 2 bulan dari sekarang. Jantung kembali berdetak lebih cepat begitu mendengar nama si Bapak-yang-namanya-suka-kudengar akan menjadi penguji gue. Dosen favorit gue banget sih, tapiii.. ya gitu deh..

Sate udah jadi dan kabar nggak biasa yang tadi gue dengar nggak mengurangi kelahapan gue dalam menyantap habis (minus satu tusuk) si ayam. Kelar makan sate, normalnya sih gue harusnya langsung buka laptop dan ngeberesin yang perlu diberesin dari bab 1-3 gue, ya? Tapi berhubung ketidaknormalan gue lagi kambuh, alih-alih buka laptop dan buka folder skripsi, gue malah baca buku yang tadi gue beli. Gue baca beberapa bab, mandi, kelar mandi buka laptop baru dehhh...... nulis post ini (Iya, gue belum buka folder skripsi gue sampe sekarang :| )

Ngomong-ngomong, dari beberapa bab buku yang gue beli itu, sejauh ini gue suka tulisannya. Dan berhubung si penulis nggak suka astrologi dan sejenisnya, makin cinta lah gue sama si Oom Piring ini (hehe).

Begitulah gue di Rabu 12-12-12 ini.. :))

Selasa, 23 Oktober 2012

Tentang SocMedFest2012

Rasanya baru kemaren, 2 hari berturut-turut melangkahkan kaki dari satu booth ke booth yang lain, dari talkshow yang satu ke yang lainnya, mengecap wawasan-wawasan baru dari orang-orang hebat nan menginspirasi pada bidang masing-masing, nonton konser gretongan yang menampilkan Everyone for All, Kikan, BARRY LIKUMAHUWA PROJECT (yang paling kutunggu ;D) dan sederet artis lainnya. Yup, I'm talking about Social Media Festival 2012 (SocMedFest2012) yang berlangsung 12-14 Oktober kemaren :))

Acaranya HEBAT! Walaupun gratis (teteeeup :p) kegiataan-kegiatan yang disediakan keren-keren. Jadi tulisan kali ini sekaligus untuk apresiasiku pribadi pada pihak2 yang mendukung terselenggaranya socmedfest2012
*membungkuk hormat*

Ini sedikit "oleh-oleh" dari socmedfest2012...

op..op..oppa Gangnam Style XD
gangnam style by Smartfren 

flash mob by [at]idberkebun (if I'm not mistaken)
nari rame-rame dengan sayur-sayuran sebagai pom-pom. x)) 



stand up comedy by Ernest
(sangat menghibur :)))



yang paling ditunggu, Barry Likumahuwa!! :D



Everyone For All and Kikan


Socmedfest ini sebenarnya berlangsung 3 hari (Jumat sampai Minggu) tapi karena hari Jumatnya ada kerjaan, jadi aku baru bisa ikutan hari Sabtu dan Minggu. Selama dua hari itu aku benar-benar banyak dapat pengetahuan baru dari beberapa talkshow yang aku ikuti.  Salah satu pengetahuan baru yang kudapat itu mengenai Rhesus Darah. Thanks to kakak2 dari Blood for Life dan Rhesus Negatif Indonesia untuk pengetahuan, cek darah dan cek rhesus yang diberikan. Lewat mereka aku jadi tahu pentingnya mengetahui rhesus dan apa rhesus darahku.

Aku baru tahu kalau ternyata di Indonesia golongan darah orang-rhesus dengan rhesus positif itu ada 99% (aku diantaranya), sisanya berhesus negatif. Padahal untuk transfusi darah, TERNYATA, ada aturan khusunya. Jadi pemilik rhesus negatif nggak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif karena sistem pertahanan tubuh si penerima donor akan menganggap darah (rhesus positif) dari donor itu sebagai "benda asing" yang perlu dilawan seperti virus atau bakteri (aku lupa, itu berlaku sebaliknya atau enggak : / ) Jadi, bisa dibayangkan kesulitan seseorang dengan golongan darah rhesus negatif saat butuh donor darah? :|

Selain itu, TERNYATA (lagi) wanita dengan rhesus darah negatif akan berpotensi mengalami "kehamilan beresiko" kalau nggak tau rhesus darahnya sejak dini. Wanita dengan rhesus positif bila hamil dari pria dengan rhesus positif ataupun negatif tidak bermasalah. Beda dengan Wanita dengan rhesus negatif, kalau hamilnya dari pria dengan rhesus positif akan beresiko timbul masalah pada kehamilannya (jika darah ibu rhesus negatif bercampur dengan darah jenis rhesus positif, secara alamiah tubuh ibu akan membentuk antibodi). Tapi kalau wanita dengan rhesus negatif hamil dari pria dengan rhesus negatif itu tidak bermasalah.

Oia, lewat talkshow ini, aku yang punya golongan darah B rhesus positif ini jadi semakin pengen untuk rutin donor darah :) Semoga terlaksana dalam waktu dekat..

Sekian dulu mengenai socmedfest2012 nyaaa..
Kalau tahun depan masih di Jakarta dan ada socmedfest2013 aku akan dengan sukacita kembali hadir :))



Rabu, 17 Oktober 2012

Little Things Called happiness

One of things I really love to do is giving presents for and from myself. Each time I got money I'd like to spend some to do my hobby "giving a gift (s) for and from myself" (can it be called a hobby? ;D). Since I really love reading novels, the presents I usually got are novels.

On Wednesday, October 10th, I got my salary. After working for about 33 hours in a month, I decided that I deserved some presents from and for myself :)). The place where I work is close to Gramedia. It only needs about ten minutes walking to get there. So, I walked faster and merrier than usual. Couldn't wait to get  my presents :))

And these are presents I get from and for myself...


In Gramedia I bought book Kisah Lainnya and Ost of Perahu Kertas. After hardly prevented myself not to buy other books (novels, to be more specific) I left Gramedia to get another present, watching Perahu Kertas part 2 :))

Anyway, I just remembered that Perahu Kertas novel is one of gifts from and for myself :)) Since I like to write the time and the place I bought my novels, I can surely say that I bought the novel two years ago, in April 3rd at TMBookstore, Depok (someday I will write why I love buying books in the store). And the novel is an Easter gift from and from myself. One of great gifts that I get ;))



The next pay day is about 20s day to come but I have had the lists of presents I will get ;)

Sabtu, 06 Oktober 2012

Random Thought


Several days ago I installed a game name Bubble Shooter on my cell phone. The game is quite easy to play. Hanya perlu mengarahkan satu Bubble ke Bubble lainnya yang sewarna untuk mendapatkan poin hingga semua Bubble habis dan bisa lanjut ke level berikutnya.


penampakan Bubble Shooter ;p


Meski (terlihat) mudah, aku beberapa kali harus mengulang satu level sampai lebih dari 5 kali untuk akhirnya bisa lanjut ke level berikutnya ;))

Seperti biasa kalo udah main game, main game yang satu ini pun aku suka lupa waktu. Kalau udah mulai main nih game, beberapa kali aku baru berhenti kalau batere HP sudah panas atau ngasih tanda kalau baterenya udah mau habis (yang artinya sudah main nih game 2-3 jam), atau tangan dan mata sudah “teriak-teriak” untuk diistirahatkan.

Pada suatu waktu, waktu aku lagi asyik main game ini, sebuah pemikiran muncul. Kalau main game kacrut ini aku nggak menyerah gitu aja saat gagal di beberapa level, HARUSNYA gitu juga dalam realitas hidupku.  Saat aku menginginkan sesuatu untuk diraih atau saat aku merencanakan sesuatu HARUSNYA aku lebih gigih berusaha (atau seenggaknya sama gigihnya ketika aku main game dan bisa menuntaskan level demi level). Saat main game semacam Angry Bird, Plants vs Zombies, Dinner Dash, dll,  semakin gagal dalam level2 tertentu, biasanya semakin penasaran lah saya untuk terus mencoba, main lagi dan lagi (berusaha) hingga akhirnya bisa lanjut ke level berikutnya.

Ah, semoga aku selalu (atau setidaknya sering) bisa lebih gigih dalam memainkan “peran” ku dalam realitas hidup ini. Nggak mudah nyerah gitu aja saat gagal pada satu 'level', berjuang untuk bisa lanjut ke 'level' berikutnya hingga akhirnya meraih 'sasaran'. :)

*Now Listening Life is Wonderful :))

Senin, 03 September 2012

Filsafat dalam Lagu


Man in the Mirror
Oleh: James Morrison



I'm gonna make a change,
for once in my life
It's gonna feel real good,
gonna make a difference
Gonna make it right...

As I, turn up the collar on
my favorite winter coat
This wind is blowing my mind
I see the kids in the streets,
with not enough to eat
Who am I to be blind?
Pretending not to see their needs

A summer disregard, a broken bottle top
And a one man soul
They follow each other on the wind ya' know
'Cause they got nowhere to go
That's why I want you to know

I'm starting with the man in the mirror
I'm asking him to change his ways
And no message could have been any clearer
If you wanna make the world a better place
Take a look at yourself, and then make a change

I've been a victim of a selfish kind of love
It's time that I realize
That there are some with no home, not a nickel to loan
Could it be really me, pretending that they're not alone

A willow deeply scarred, somebody's broken heart
And a washed-out dream
(Washed-out dream)
They follow the pattern of the wind ya' see
'Cause they got no where to be
That's why I'm starting with me

(You gotta get it right, while you got the time)
('Cause when you close your heart)
You can't close your... your mind!
(Then you close your... mind!)
That man, that man, that man, that man
With the man in the mirror
That man, that man, that man,
I'm asking him to change his ways
(Better change!)
You know... that man

I'm gonna make a change
It's gonna feel real good!
Come on! Just lift yourself
You know
You've got to stop it,Yourself!
I've got to make that change, today!
You got to
You got to not let yourself... brother
(Yeah! - Make that change!)
You know - I've got to get
that man, that man...
You've got to
You've got to move! Come on!
You got to...
Stand up! Stand up! Stand up!
Stand up and lift yourself, now!
Gonna make that change... come on!
You know it! Make that change.


Sumber lirik: http://www.lyricstime.com/james-morrison-man-in-the-mirror-lyrics.htm


Pada bait pertama lagu ini terdeskripsi mengenai seseorang yang bertekad untuk membuat suatu perubahan positif dalam hidupnya. Ia menyadari perubahan itu akan terasa nyata. Ia bertekad untuk membuat sesuatu yang berbeda dan tepat. Sebagai manusia yang memiliki hati dan pikiran, keinginan untuk membuat suatu perubahan pasti terjadi dalam setiap pribadi. Ide untuk membuat suatu perubahan itu sendiri bisa muncul dari peristiwa-peristiwa yang pernah dialami manusia. Dalam sekian banyak peristiwa yang bisa dialami manusia selama masa hidupnya, pasti ada setidaknya satu atau dua peristiwa yang memberikan kesan sendiri pada pribadinya. Dari kesan-kesan itulah suatu ide bisa muncul. Seperti pendapat David Hume yang menyatakan bahwa ide-ide adalah copyan dari kesan.

Dalam lagu ini, peristiwa yang memberi suatu kesan dideskripsikan pada bait kedua. Pada bait ini diceritakan bahwa orang tersebut menyaksikan anak-anak jalanan yang kekurangan makanan pada suatu malam di musim dingin. Pada saat itu ia sadar ia tidak bisa “buta” melihat keadaan tersebut, ia tidak bisa berpura-pura tidak melihat apa yang menjadi kebutuhan mereka. Dilanjutkan pada bait ketiga yaitu lanjutan peristiwa yang disaksikan orang tersebut. Dia sadar bahwa anak-anak itu tidak punya tempat berlindung dari dinginnya udara. Mereka masih anak-anak, namun harus merasakan kerasnya hidup, tidak hanya tidak punya cukup makanan, tapi juga harus menahan dinginnya udara di jalanan. Dari peristiwa inilah ide untuk membuat suatu perubahan muncul.

Tokoh dalam lagu ini sadar bahwa perubahan yang baik, untuk dirinya sendiri maupun orang lain, harus dimulai dari diri sendiri. Seperti terurai pada bait berikutnya, bahwa ia akan memulai merealisasikan ide perubahan itu dengan lelaki yang ada di cermin (dirinya sendiri). Ia bertekad untuk mengubah jalan hidupnya. Ia sadar bahwa tidak ada pesan yang lebih jelas dari peristiwa yang sudah ia lihat sendiri. Keputusan untuk mengambil tindakan perubahan dimulai dari diri sendiri merupakan salah satu aspek hidup manusia yang terpenting menurut Kierkegaard. Menurut tokoh eksistensialisme tersebut kegiatan terpenting manusia adalah mengambil keputusan kemudian melalui pilihan yang kita buat, menciptakan kehidupan kita dan menjadi diri sendiri. Pria tersebut menyadari eksistensinya, bahwa yang menentukan pilihan adalah diri sendiri, bukan orang lain. Itu sebabnya ia mengajak orang-orang yang ingin membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik, mereka juga harus melihat diri mereka sendiri dan kemudian membuat suatu perubahan.

Sebagai manusia yang hidup di tengah-tengah budaya modern, banyak orang pasti sering menyaksikan atau bahkan menjadi pelaku invidualitas, yaitu mengutamakan kebutuhan sendiri dan cenderung tidak perduli dengan orang-orang di sekitar, apalagi yang tidak dikenal. Tuntutan kebutuhan dan kecekatan dalam beraktivitas sering menjadi pemicu banyak masyarakat modern menjadi “buta” atau pura-pura “buta” dengan kebutuhan orang lain.

Meski hidup di tengah-tengah budaya modern, pria dalam lagu ini bertekad untuk tidak menjadi individu yang egois. Ia bertekad dan mengajak orang-orang lainnya untuk melakukan perubahan sama seperti dirinya. Ia sadar bahwa pilihannya menentukan makna hidupnya. Ia akan membuat perubahan tersebut dengan baik selama ia masih punya waktu untuk melakukannya.

Rabu, 08 Agustus 2012

#CerpenPeterpan Skripsi pasti Berlalu


Besok Reta akan bertemu dosen pembimbing skripsinya. Dalam sebulan ini ia sudah mengunjungi perpustakaan milik kampusnya maupun kampus lain, membaca beberapa skripsi, dan mencari informasi melalui google. Dari usahanya itu ada beberapa teori yang menarik perhatiannya, yaitu eksistensialisme, materialisme, dan hiperrealitas.

Sebenarnya ia paling tertarik dengan teori eksistensialisme setelah membaca skripsi di salah satu perpus yang ia datangi. Skripsi milik alumni yang bukan dari kampusnya itu membahas mengenai eksistensialisme dalam drama kontemporer Amerika. Setelah ia membaca skripsi itu ia terinspirasi untuk menggunakan teori yang sama untuk menganalisis novel. Sayangnya, ia tak tahu novel apa yang cocok untuk dianalisis dengan menggunakan teori itu. Hal yang sama terjadi pada teori materialisme.

Untuk teori hiperrealitas, ia sebenarnya sudah menemukan corpus yang akan ia analisis. Namun pengetahuannya akan teori ini belum sebaik pengetahuannya mengenai eksistensialisme ataupun materialisme. Jadilah ia masih terus mencari dan mencari judul cadangan dengan membaca beberapa student papers pada Institutional repository website sebuah universitas.

Beberapa jam berlalu. Ia tak kunjung mendapat ide.

Di tengah kepenatannya, dari sebelah kamar kostannya terdengar suara Ana menyenandungkan lagu

Semua yang membebaniku
Sungguh.. membebaniku..
Sungguh.. membebaniku..
Sungguh.. membebaniku..

Dari obrolan antar sesama penghuni kamar kostan, Reta mendengar kalau tiga hari yang lalu Ana putus dengan pacarnya setelah setahun lebih berpacaran. Ia tak heran kalau dari kamar yang persis berada di sebelah kanan kamarnya itu sering terdengar lagu-lagu menyayat hati.

Lemah tetap menari
Langkahku...
Mencoba tetap berdiri, ku menangis...
Masih tetap mencari jalanku
Memahami beban itu

Ia kembali mendengar suara Ana yang menyanyikan lagu milik Peterpan itu tanpa cacat. Andai suaraku sebagus suara Ana. Harap Reta.

Tak berapa lama, Reta keluar dari kamarnya sambil bernyanyi

Semua yang membebaniku
Skripsi.. membebaniku..
Skripsi.. membebaniku..
Skripsiii.. membebaniku..

Iren yang kamarnya persis di depan kamar Reta tertawa mendengarnya bernyanyi lengkap dengan ekspresi seseorang yang benar-benar sedang memiliki beban yang berat.

*

“Bagaimana? Apa judul skripsi kamu, Reta?” ibu Rosi, dosen pembimbing Reta, langsung bertanya begitu Reta duduk di depan meja kerjanya.
“Emm, sebenarnya saya pengen pakai teori eksistensialisme, Bu, untuk skripsi saya. Tapi saya belum tahu novel apa yang mau saya analisis, Bu,” tutur Reta apa adanya.
“Begitu, ya?! Selain eksistensialisme kamu tidak ada cadangan teori yang lain?”
“Ada sih, Bu. Hiperrialitas. Kalau saya pakai teori hiperrealitas untuk menganalisis situs fan page, menurut ibu gimana?”
“Lho, itu kan sudah ada yang mengajukan. Kalau tidak salah Dani beberapa hari yang lalu sudah mengajukan itu pada saya.”
Reta langsung lemas begitu mendengar pernyataan bu Rosi.
“Begini Reta, sebenarnya selain ingin menanyakan judul yang ingin kamu ajukan, saya sebenarnya mau menawarkan sebuah proyek skripsi untuk kamu,” ucap Bu Reta setelah hening beberapa menit.
“Proyek apa, Bu?” tanya Reta tak bisa menyembunyikan ketertarikannya.
Bu Rosi kemudian menceritakan proyek yang ia maksud. Jadi ia butuh lima mahasiswa untuk melakukan semacam survey. Dari penjelasan Bu Rosi, Reta bisa menyimpulkan kalau ia menerima proyek ini ia akan banyak berhubungan dengan alumni-alumni kampusnya dan perusahaan/lembaga tempat mereka bekerja.
“Kamu nggak harus jawab sekarang,” ucap bu Rosi.
“Iya, Bu. Saya perlu waktu untuk mempertimbangkannya,” jawab Reta.
“Oke. Paling lama minggu depan saya tunggu jawaban kamu, ya. Kalau pun kamu tidak mau ikut proyek ini, tidak apa-apa. Saya tetap akan jadi dosen pembimbing kamu. Tapi minggu depan kamu juga coba ajukan judul yang lain, ya.”
“Iya, Bu.”

Reta melangkah keluar dari ruang dosen dengan keyakinan yang sama ketika ia masuk: beban skripsi pasti berlalu.
*

Rabu, 01 Agustus 2012

Interpretasi Lagu Life is Wonderful

Berawal dari tugas kuliah untuk menganalisis lagu. Aku harus memilih beberapa lagu untuk dianalisis dengan menghubung-hubungkannya dengan filsafat. Jelas, ini bukan interpretasi yang dalam. Tujuanku sendiri menampilkan hasil analisisku ini hanya untuk berbagi ide/pendapat. Jika ada yang tidak sepakat, aku siap untuk menampung pendapat lain :)

Inilah dia satu dari beberapa lagu yang ku interpretasikan :D


Life is Wonderful
 Jason Mraz

It takes a crane to build a crane
It takes two floors to make a storie
It takes an egg to make a hen
It takes a hen to make an egg
There is no end to what I'm saying
It takes a thought to make a word
And it takes some words to make an action
And it takes some work to make it work
It takes some good to make it hurt
It takes some bad for satisfaction

Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life goes full circle
Ah la la la la life is wonderful
Ah la la la la la

It takes a night to make it dawn
And it takes a day to make you yawn brother
And it takes some old to make you young
It takes some cold to know the sun
It takes the one to have the other
And it takes no time to fall in love
But it takes you years to know what love is
And it takes some fears to make you trust
It takes those tears to make it rust
It takes the dust to have it polished
Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life goes full circle
Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la

It takes some silence to make sound
And it takes a lost before you found it
And it takes a road to go nowhere
It takes a toll to make you care
It takes a hole to make a mountain

Ah la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la life goes full circle
Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la life is meaningful
Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la life is meaningful
Ah la la la la la la life is full of
Ah la la la la la life is so full of love
Ah la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life is meaningful
Ah la la la la la life is full of
Ah la la la la la life is so full of love

Sumber lirik: http://www.sing365.com/music/lyric.nsf/life-is-wonderful-lyrics-jason-mraz/75b5e49931ba7f9c4825704b00140acf

 Lagu ini menyatakan bahwa hal-hal yang terjadi dalam kehidupan merupakan hasil dari proses. Salah satu proses yang harus dilalui adalah proses berpikir. Untuk membuat satu kata pun manusia sering kali juga memerlukan pemikiran apalagi bila dikaitkan dengan jati diri manusia sebagai mahkluk sosial yang perlu berinteraksi. Bisa dibayangkan kekacauan yang akan timbul jika manusia mengungkapkan kata apapun yang terlintas dalam pikirannya tanpa proses penyaringan dalam pikiran mengenai kata apa yang sesuai, tepat, dan sebisa mungkin tidak menyinggung perasaan orang yang berinteraksi dengannya. Lalu dengan kata-kata pula manusia bertindak. Tidak setiap manusia adalah makhluk yang berinisiatif. Tidak sedikit manusia yang harus mendengar kata-kata perintah atau permintaan bantuan dulu baru mau bertindak.

Dalam kehidupan manusia juga memiliki pengalaman. Pengalaman-pengalaman yang dilalui sering kali untuk mendapakan keberhasilan dan perasaan puas dalam hidup. Untuk mencapai keberhasilan dan kepuasan manusia perlu bertindak. Tindakan yang diambil tidak hanya satu atau dua tindakan saja. Manusia seringkali harus menentukan banyak tindakan yang perlu dilakukan untuk menuju suksesnya. Dalam proses bertindak itu adalah wajar jika manusia mengalami perasaan-perasaan terluka dan senang yang bisa saja muncul bergantian atau malah bersamaan.

Pada bait ke empat lagu ini menekankan bahwa dalam kehidupan ada proses dan pengalaman yang harus dilalui manusia. Bahwa butuh satu malam yang terlalui sebelum fajar menyinsing, butuh satu harian untuk akhirnya mendatangkan kantuk pada manusia. Pengalaman-pengalaman yang dilalui manusia lalu bisa menciptakan rasa. Seperti pengalaman-pengalaman yang menuntun manusia memasuki usia lanjut yang tetap bisa membuat manusia itu berjiwa muda. Kemudian ada juga pengalaman merasakan dingin yang akhirnya bisa membawa manusia untuk mengetahui bagaimana matahari dan kehangatannya.

Banyak manusia yang mudah jatuh cinta namun tidak sedikit pula yang butuh waktu bertahun-tahun lamanya sebelum akhirnya sadar apa sebenarnya cinta itu. Di sinilah konsep pengalaman ditekankan. Lewat pengalaman, manusia merasakan jenis perasaan yang berbeda-beda. Sebagai mahkluk yang memiliki rasa, tentu manusia tidak hanya mengenal rasa cinta saja. Manusia juga memiliki rasa takut, percaya, sedih, dan sebagainya. Namun rasa percaya bisa saja berasal dari pengalaman setelah mengalahkan rasa takut, dan air mata sering kali tidak terhindarkan untuk pada akhirnya bisa melupakan rasa sedih.

Lagu ini mengisahkan betapa pentingnya pengalaman dan rasa dalam hidup tanpa mengabaikan pentingnya rasio. Pemikiran positif yang bisa disimpulkan lewat lagu ini adalah bahwa indah dan berartinya hidup bergantung pada bagaimana rasio manusia memaknai rasa dan pengalaman yang ia lalui dalam hidupnya. Lagu ini bisa menginspirasi pendengarnya untuk menghargai serta memaknai hidup dan menganggap hidup itu indah disamping kesulitan-kesulitan dan perasaan-perasaan yang tidak selalu bahagia yang harus manusia hadapi.

Disamping pemikiran positif dalam lagu ini, para pendengar juga bisa menangkapa persepsi berbeda yang bisa menjadi negatif bagi dirinya sendiri. Konsep bahwa hidup itu indah dalam lagu ini bisa saja menciptakan sikap malas atau pasrah. Jika memang hidup itu indah, para pendengar yang menanggapi lagu ini dengan cara yang berbeda, di samping pemikiran positif yang disediakan oleh lagu ini, bisa saja menjadikan alasan hidup indah sebagaimana adanya membuat mereka menerima begitu saja atau cepat puas dengan hidup mereka, yang sebenarnya bisa lebih dari apa yang sudah mereka dapatkan.

bagaimana menurut mu? :))

Sabtu, 28 Juli 2012

Mungkin Nanti #CerpenPeterpan


Hari ini hari terakhir UAS Semester Pendek. Seusai ujian aku merasakan beratnya kaki ini melangkah keluar kelas meski soal yang diujikan sudah kujawab semua. Aku bahkan sudah dua kali membaca ulang baik pertanyaan maupun jawaban. Sebelum tuntas membaca ulang untuk yang ke tiga kalinya aku akhirnya membalik lembar jawaban lalu menyeret kaki menuju pintu.

Begitu membuka pintu, mataku langsung menangkap sosok yang sudah sangat kukenal bahkan jika ia membelakangiku. Beberapa langkah dari tempatku tercenung ia berdiri, menantiku. Pertemuan terakhir kami kira-kira dua minggu yang lalu. Saat ia mendapati kebodohanku.

Waktu itu tanpa kusadar sepasang matanya mengawasiku dari mulai aku memasuki sebuah cafe dengan menggamit mesra tangan pria yang tak ia kenal, memesan makanan dan minuman, menikmatinya sambil diselingi candaan dua sejoli yang terlihat sedang kasmaran. Aku masih tidak sadar hingga aku melewati meja tempat ia dan teman-temannya sedang ngobrol saat aku akan ke toilet.

Sedetik, mata kami beradu, namun ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan terlibat dalam percakapan, ikut tertawa bersama teman-temannya. Aku kenal sorot mata itu, sorot yang mencerminkan kalau si empunya tidak sedang benar-benar tertawa.

Saat aku sudah berada di dalam toilet, sekujur tubuhku bergetar. Untuk sekedar berdiri tegak pun rasanya sulit. Di atas dudukan toilet aku terduduk lemas, mengulas kembali kejadian 30 menit yang lalu. Entah karena panik atau tidak rela, aku tak bisa mengingat apapun selain sorot mata yang sebelum hari ini selalu menatapku hangat selama kurang lebih 3 tahun kami kuliah dan berpacaran ditambah 3 tahun kami duduk di bangku SMA dan berteman baik. Dan dadaku sesak membayangkan betapa momen 30 menit bisa mengandaskan kebersamaan selama enam tahun. Pelupuk mata ikut mengekspresikan kekacauan yang kualami.


Cukup lama aku berdiam di dalam ruang sempit namun terasa dipenuhi mahkluk-makhluk yang bersukacita menyaksikan ketololanku. Pada menit ke sekian, Aldi, pria yang datang ke kafe ini bersamaku akhirnya menghubungi ponselku. Aku sedikit tersentak mendengar dering ponselku sendiri. Tak tahu harus bilang apa, akhirnya aku memutuskan untuk tidak menjawab telepon itu dan mengumpulkan keberanian melangkah keluar dari toilet.

Saat aku kembali melewati meja tempat Tian, kursi tempatnya tadi duduk sudah kosong. Takut-takut aku melirik pada wajah-wajah yang menduduki kursi-kursi tempat teman-temannya tadi berada, yang sekarang ternyata sudah diduduki orang yang berbeda. Selama itukah aku di toilet?

Aldi menghampiriku yang berdiri tidak jauh dari toilet.

“Kamu kenapa?” tanyanya, khawatir.

Aku terdiam sejenak. “Di, aku sakit perut, kita balik sekarang, ya.” Ucapku sambil meninggalkannya, mengambil tasku, keluar dari kafe dan masuk ke taksi yang barusan menurunkan penumpangnya persis di depan kafe.

“Alexa...” kudengar panggilan tertahan Aldi sebelum aku menutup pintu taksi.

Di dalam taksi, ponselku tak henti-hentinya berdering dari satu pemanggil yang sama, Aldi. Setelah mengirim pesan singkat bahwa aku baik-baik saja dan bohong kalau aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit terdekat untuk periksa akhirnya dering-dering itu berhenti.

***

Dua jam lebih aku menanti di ruang tamu kostannya, Tian tak kunjung datang. Di masa-masa normal hubungan kami, aku pasti sudah ngambek bahkan jika ia membuatku menunggu hanya 15 menit.
Memasuki jam ke tiga, dengan wajah kusutnya akhirnya ia muncul dari balik pintu.

“Oi, Yan, parah lu! Cewek lu uda nunggu tiga jam gitu. Dari mana aja lu?” Ucap Dion, teman sekostannya yang berpapasan dengannya.

Ia hanya nyengir menanggapi ocehan Dion lalu duduk persis di sebelahku. Namun mata itu seakan tak sudi menatapku. Alih-alih mata itu fokus pada layar TV yang menayangkan berita.

Puluhan menit berlalu begitu saja. Aku tak tahu harus apa. Untuk sekedar memanggil nama pendeknya saja lidah ini kelu.

“Yan...” panggilku pelan, akhirnya memberanikan diri.

Tidak ada respon. Kesunyian kembali menyergap.

“Yaan...” panggilku lagi, sedikit lebih keras dari sebelumya.

“Hmm?” responnya.

Aku terdiam lagi. Kucoba merangkai kata, namun yang akhirnya keluar hanya, “Maaf...” diiringi air mata.

Ia akhirnya membalikkan badan, menghadapku. Dalam diam kemudian ia berdiri, “Kita omongi di kamarku aja,” ucapnya pelan sambil beranjak. Aku menyusulnya.

Aku berdiri canggung di kamar yang selalu tertata rapi dan juga harum setiap kali aku berkunjung. Aku jarang masuk ke kamarnya, namun setiap kali ke sini aku belum pernah mendapati kamar ini kotor tak terurus, bau rokok – Tian bukan perokok, pengap dan deskripsi kebanyakan kamar cowok lainnya.
Tian duduk di atas kasur yang menghadap lemari pakaiannya. Aku memilih kembali duduk di sampingnya.

“Sudah berapa lama?” tanyanya. Kali ini ia menatapku, tanpa tatapan menuduh.

Aku tak langsung menjawab. Ku coba menyusun kata hingga akhirnya memutuskan menceritakan semuanya, sejujur-jujurnya.

“Aku kenal dia dua bulan yang lalu. Dia teman SMA Fira. Waktu aku ke mall bareng Fira nggak sengaja ketemu dia, Fira mengenalkan dia ke aku,” uraiku berusaha menjelaskan. “Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, Yan,” tambahku.

“Fira anak ekonomi?” ia memastikan. Aku mengangguk, masih menunduk.

“Kamu suka sama dia?”

Spontan, aku mendongak, “Enggak, sayang, beneran aku nggak ada perasaan apa-apa ke dia,” yakinku.

“Dia yang suka kamu kalau begitu?”

Aku kembali menunduk. Tak berani meng-iya-kan.

“Yan, aku mohon maafin aku...” ucapku lirih.

Tak ada respon. Namun tak berapa lama tanpa kuduga ia memegang satu tanganku.

“Aku butuh waktu untuk mikirin semuanya. Kamu, aku, dan hubungan kita,” ucapnya tanpa ada nada marah sedikitpun.

“Dua minggu, aku rasa cukup untuk kita saling introspeksi diri. Jadi selama dua minggu ke depan baiknya kita nggak ada komunikasi sama sekali dulu, sekalian kamu fokus nyiapin diri untuk UAS SP ntar,” ucapnya tegas, tanpa tanya setujukah aku dengan idenya.

Dulu aku jatuh cinta pada sosok ini karena ketenangannya. Tiga tahun pacaran ia selalu menemukan alasan untuk memaafkan aku yang teledor dan tidak sabaran. Betapa aku berharap saat ini ia mengumpatku sepuasnya lalu tanpa perlu jeda dua minggu kemudian memaafkanku.

***

Dalam perjalananku pulang ke kostan, percakapan di awal tiga bulan kami jadian terngiang di kepalaku.
“Lex, kelak kalau kamu bosan pacaran denganku kamu ngomong aja ya,” ucapnya. Aku mengernyit mendengar pernyataannya kala itu. “Dari semua sifat negatif manusia aku paling benci ketidaksetiaan. Jadi, ya... aku lebih mudah ngizinin kamu untuk nyoba pacaran dengan cowok lain ketimbang mendapati kamu diam-diam nggak setia sama aku.”

Tanpa bisa kucegah air mata kembali membasahi pipiku. Kalau saja aku mengingat ucapannya ketika ide untuk memanfaatkan rasa suka Aldi padaku muncul di permukaan, di tengah-tengah kejenuhan hubunganku dan Tian.

***

“Kamu apa kabar?” ucapku membuka percakapan sekaligus juga benar-benar bertanya sesampainya kami di gazebo yang sore ini lengang. Pada masa perkuliahan aktif gazebo ini selalu ramai dihuni oleh para mahasiswa. Namun berhubung saat ini adalah masa liburan dan hanya sebagian kecil mahasiswa yang ikut Semester Pendek wajar saja hanya ada kami berdua kali ini.

“Seperti yang kamu lihat, aku sehat,” ucapnya tersenyum.

“Udah maafin aku?” tanyaku, aku sendiri bisa mendengar getar dalam suaraku.

Ia tak langsung merespon. Jantungku berdebar tanpa mampu kukontrol.

“Maafin kamu sebenarnya udah, dari pertama kamu minta maaf sebenarnya aku udah maafin kamu,” jawabnya akhirnya, namun jantungku tak semakin menurun kecepatannya berdetak.

Aku diam. Menunggu kalimatnya selanjutnya, yang kuharap tidak ada.

“Dua minggu ini aku berusaha ngelupain kejadian di kafe. Aku gagal. Dua minggu ini juga aku berusaha ngumpulin keyakinanku bahwa kejadian itu nggak akan pernah terulang lagi. Aku gagal lagi. Aku berusaha mengingat momen-momen kita bersama. Kupikir banyaknya momen itu akan cukup kuat untuk memusnahkan satu momen itu. Ternyata aku salah, momen itu ternyata punya banyak bayangan hingga tiap kali aku mengingat kenangan-kenangan kita ia selalu berhasil menyusup dari satu kenangan ke kenangan lainnya. Dan ia selalu menang, meyakinkanku kenangan akan tetap menjadi kenangan, tapi kamu juga aku bukan lagi sosok yang sama yang berperan dalam kenangan-kenangan itu,” ucapnya panjang lebar.
Menyadari ke mana pembicaraan akan berujung, sekuat tenaga aku menyembunyikan derasnya air yang sanggup mengalir dari kedua mataku.

“Aku memutuskan untuk menyudahi hubungan kita dan mengubur semua kenangan kita. Itu satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk bisa menepis kejadian di kafe itu dan kemudian hidup tanpa membencimu,” putusnya.

***

Setibanya di kamar kostku aku tak kuasa meredam air mata yang terus menerus mengalir. Air mata penyesalan atas kebodohanku, ketidaksetiaanku, dan atas pelitnya Tian untuk sudi memberiku kesempatan ke dua. Tidak setiap orang beruntung untuk mendapatkan kesempatan ke dua. Aku mendengar sudut pikiranku menginformasikan.

Sayup-sayup, dari kamar salah satu teman kostanku aku menangkap suara Ariel yang menyenandungkan lirik pada bagian

Dan mungkin bila nanti kita ‘kan bertemu lagi
satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali
rasa yang kutinggal mati seperti hari kemarin saat semua di sini

Dan bila hatimu termenung, bangun dari mimpi-mimpimu
membuka hatimu yang dulu cerita saat bersamaku
Tak usah kau tanyakan lagi simpan untukmu sendiri
semua sesal yang kau cari semua rasa yang kau beri

Sebelum hari ini, aku sangat menyukai lagu ini. Dan sebelum hari ini juga, aku sejujurnya tak pernah berusaha benar-benar menyimak kemudian memahami mengenai apa lagu ini sebenarnya. Kini lagu ini seolah dipesan khusus oleh Tian untuk menyampaikan kekecewaan sekaligus kekesalannya padaku.

Mungkin, langkah tepat yang bisa kuputuskan saat ini adalah membiarkannya mengubur semua kenangan yang pernah kami lalui bersama. Dua minggu memang terlalu singkat untuk bisa melupakan kebersamaan kurang lebih enam tahun, kan? Kelak, aku akan membuatnya mencintaiku dari awal lagi, memantapkan percayanya padaku, hingga nanti bersama-sama kami akan menciptakan kenangan-kenangan baru tanpa perlu mengungkit kenangan sebelum hari ini.


Kamis, 17 Mei 2012

"Go" and "Went"

Me : *asking my five students (around 5-6 years old)* Who know what is the different between "go" and "went"?
Student 1 : Go means pergi, went... I don't know what is went.
Student 2 : Go is two letters, went is four letters.
Me : "..." *Ok, it's not a wrong answer, but it is an unexpected, surprised answer!*
:D

Jumat, 02 Maret 2012


The past, the present and the future are really one: they are today.
- Harriet Beecher Stowe.